Jalan-Jalan Gratis Ala Jurnalis

Ketemu sama artis masa kini sampai presiden Jokowi itu udah jadi makanan sehari-hari. Bisa masuk ke konser sampai bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis itu beberapa bentuk apresiasi. Nah, inilah kisah jadi jurnalis! 

Saya kuliah di Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI angkatan 2005. Sebelum mengerjakan skripsi, saya diterima di tvOne. Jadi, saya bener-bener gak sempat nganggur. 

Bergabung di tvOne, saya mengikuti pelatihan selama enam bulan. Di sana, saya belajar banyak hal, dari menulis naskah televisi sampai siaran langsung atau live report

Capek? Pasti! Seru? Banget! Suka duka sangat terasa. Dari yang basah-basahan di liputan banjir, lupa makan dan mandi di liputan bencana, nunggu sampai ketiduran di KPK, bingung dengerin isu-isu politik di DPR, bersikap formal dan rapi saat di istana, sampai capek-capek ria di arus mudik. Bahkan masih banyak lagi. 

Tantangan terbesar dari seorang jurnalis itu adalah SABAR! Kenapa harus dikapital? Karena memang ini salah satu modal utama. Apalagai kalau tugas kita adalah mewawancarai orang penting. Kadang untuk wawancara 5 menit, kita bisa menunggu lebih dari 5 jam! Di antaranya, ya seperti, di KPK, DPR sampai istana.

Banyak yang penasaran, bagaimana, ya, rasanya liputan di istana? Jawabannya SERU! Karena tidak semua orang bisa masuk ke kediaman dan kantor presiden. Pemeriksaannya lumayan ketat, dari awal sampai akhir. 

Kita harus punya identitas khusus juga dan pastinya mengikuti peraturan yang ada. Saya menjadi wartawan istana saat era Wakil Presiden Boediono (2010–2012) dan Presiden SBY (2012–2013). Susah senang sedih dirasakan di sana.

Kalau liputan yang mengesankan lainnya adalah saat liputan bencana. Di tahun 2009, saya meliput gempa di Padang, Sumatra Barat. Padang luluh lantah, susah listrik, susah cari air bersih, hingga akhirnya saya dirawat di rumah sakit. 😦

Ngomongin sakit, karena jadi jurnalis saya pernah terkena sakit tipes. Hehehe …. Karena memang, makannya tidak teratur dan bisa jadi makan sembarangan di mana saja. Makanya,, kesehatan itu harus dijaga. Tak hanya saat menjadi jurnalis, tapi di pekerjaan apa pun.

Arus mudik itu adalah salah satu tantangan dan resiko jadi jurnalis. Kenapa? Karena di saat orang-orang pulang kampung merayakan idul fitri, saya dan teman-teman malahan berada di tengah kemacetan, dan berusaha melaporkan informasi terkini.

Saat pertama kali tidak merayakan hari raya bersama keluarga, saya sedih banget. Itu risiko, karena sekarang saya adalah seorang jurnalis 🙂 Tetapi dibalik kesedihan, pasti ada hikmah. Karena saya bisa jalan-jalan liputan di kampung orang dan mendapat banyak kenalan. Lumayan, kan? 

Ngomongin jalan-jalan, tiap dapat penugasan dalam dan luar negeri, bisa juga loh dianggap wisata gratis (meskipun gak bisa dinikmati banget yaaa). Karena tiket, penginapan, sampai uang makan dibayarin sama kantor. ^^v

Salah satunya, saat saya dapat kesempatan ke Bali dan Kamboja sendirian alias jadi reporter dan kameramen sendiri! Hahaha … Sedih, tapi seru! Karena saya bisa belajar dewasa dan mandiri. Harus bisa cepat ambil keputusan, bersaing sama cowok-cowok dan rebutan tempat untuk ambil gambar terbaik.

Ceritanya seperti ini. Di Bali, saya liputan sebagai media televisi sendirian, perempuan pula! Teman-teman yang lain dari cetak dan online. Saya mendapat tempat liputan di belakang dan diomelin sana-sini saat ambil gambar. Namun, saya tidak pantang menyerah!

Begitu pun saat saya liputan ke Kamboja. Ini lebih parah! Saingannya media-media asing. Mana mereka cowok semua dan kebanyakan bapak-bapak! Namun saya punya trik! Saya datang lebih pagi, banyak senyum sana sini, sehingga dapat tempat lebih nyaman 🙂

Meski lelah karena gotong-gotong tripod dan gendong kamera sendirian, saya merasa lebih kuat dan otot terlatih! Anggap aja fitnes gratis. Hehehe ….

Sekarang saya sudah tidak lagi bekerja di tvOne, tapi di NET TV. NET dengan tvOne banyak sekali perbedaannya, diantaranya NET bukan televisi berita, namun juga berusaha mendapatkan informasi dengan cepat.

Di NET, saya pernah meliput di program Indonesia Bagus, Lentera Indonesia, sampai Satu Indonesia. Masing-masing program punya ciri dan karakteristik yang berbeda, tetapi semua memberikan banyak pembelajaran hidup.

Di Satu Indonesia, saya bertemu segala macam tokoh, dari tokoh budaya seperti Sudjiwo Tedjo sampai dengan Presiden RI Joko Widodo. Di Lentera Indonesia, saya meliput pengajar muda yang mengajar di pelosok. Banyak tantangannya, dari listrik yang sering padam sampai penerimaan masyarakat yang belum tentu positif.

Namun yang paling berkesan adalah saat meliput untuk Indonesia Bagus. Di program ini, saya meliput keindahan alam dan budaya Bangka, Belitung, Kediri, juga Blitar. Hal ini membuat saya bangga. Indonesia itu keren banget!!!

Menantang banget, kan?? Percaya deh, saat kita senang melakukannya (ap apun yang positif) Insha Allah hasilnya pun akan menyenangkan. Salah satunya, ya, menjadi jurnalis. Nah, apa kamu siap jalan-jalan gratis?

***

Kiriman dari:

Aulia Kurnia H (Ollie)
Jurnalis at NET TV (sebelumnya reporter tvOne)
@ollie_aulia
Producer of NET News

 

Advertisements

One thought on “Jalan-Jalan Gratis Ala Jurnalis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s