Ketika yang Kau Dapat Tidak Seperti yang Kau Minta

Ketika yang kau dapat tak seperti yang kau minta apa reaksimu? Menangiskah? Kecewakah? Berhentikah berdoa? Apa? Tak mudah bukan menerima hal yang tak seperti rencana kita. Rencana indah yang menurut pikiran kita terbaik untuk kita. Pastinya. Tak mudah.

Aku berulang kali merasakan hal itu. Mendapati sesuatu yang tak seperti pintaku. Mendapat sesuatu yang tak seperti mimpiku. Padahal semua yang kupinta dan kuimpikan sudah kupikirkan matang-matang. Ia kuharapkan membawa sesuatu kebahagiaan. Malah sudah kupersiapkan ‘naskah cerita’ beserta ‘dialog-dialognya’ jika sudah benar mendapatkannya. Aku berlaku seperti sang sutradara untuk kehidupanku sendiri. Kubuat jalan cerita, mengisinya dengan dialog-dialog berirama dan mengakhiri setiap bagiannya dengan cerita indah yang terasa nyata.

Tapi sayang. Tak semua yang kumau berlaku kepadaku. Lalu apa selanjutnya langkahku? Berhentikah? Berbelok arahkah? Atau berjalan mundurkah? Yang kutahu aku hanya tetap melangkah. Walaupun perlahan dan kadang harus berhenti di tengah jalan. Sebab bekal yang kubawa hampir habis. Sebab energiku sangat mudah menipis. Karena keinginanku kadang mulai kuragukan. Namun, apakah pilihanku selain terus berjalan?

Kuucapkan selamat jika sejak awal kau dapat dengan mudah menentukan apa-apa saja yang akan kau lakukan. Saat sejak belia kau sudah tahu tujuanmu akan ke mana. Kuucapkan selamat. Namun, tak semua jiwa mendapat pencerahan seperti itu. Tak semua jiwa mendapat kesempatan seperti itu. Ada yang harus terus mencari untuk tahu apa makna hidup ini. Ada yang terus bertanya apa yang harus dilakukan untuk mengisi sisa hidup ini. Ada. Termasuk aku.

Jadi, apa yang akan kulakukan selanjutnya? Pastinya, aku akan tetap berjalan. Walaupun kadang aku terlalu lelah membawa beban pikiran. Walaupun terkadang aku khawatir akan habisnya bekal di perjalanan. Aku harus tetap berjalan. Karena aku masih menyimpan harapan, akan adanya sumur jernih di ujung jalan. Karena aku masih berharap akan bertemu dengannya di persimpangan jalan. Karena aku berharap. Masih berharap. Toh, roda disebut roda karena ia terus berputar bukan? Dan aku akan masih disebut manusia jika masih terus berusaha. Sekuat tenaga.

Oleh Rizqi Kiki Widiastuti

Alumni Sastra Cina Universitas Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s