Category Archives: artikel bermanfaat

Korean Wave: Pariwisata, Soft Power, dan Gerakan Ekspansi Budaya Pop

Oleh Ranny Rastati (Peneliti PMB LIPI)

Selama puluhan dasawarsa, industri populer dunia dikuasai oleh produk keluaran Amerika Serikat (Hollywood) dan Jepang (Anime). Namun, dalam beberapa dekade terakhir, Korea Selatan yang merupakan salah satu kekuatan ekonomi baru Asia, mencuat sebagai salah satu alternatif budaya populer. Berbagai produk Korean Wave seperti musik (K-pop), drama (K-drama), film (K-film), fesyen (K-fashion), makanan (K-food) dan kecantikan (K-beauty). Semuanya merupakan bentuk industri kebudayaan yang berdasarkan pada produksi dan penyebaran seni, cerita rakyat dan adat istiadat. K-drama pertama yang meraih kesuksesan internasional adalah Star in My Heart (1997) yang meraih rating fantastis di China (Sung, 2008: 14). Sementara itu, K-drama yang memecahkan rekor dengan mengumpulkan 15% pemirsa Jepang adalah Winter Sonata (Mori, 2008: 130).

Awal kepopuleran Korean Wave di dunia terjadi ketika artis Korea Selatan baik itu K-drama maupun K-Pop mulai mendapatkan perhatian dari anak muda di Jepang, Cina, Hongkong, dan Taiwan, kemudian berlanjut di Asia Tenggara dan Pasifik (Maliangkay, 2007: 2). Kombinasi antara penampilan yang menawan, koreografi yang apik, dan gaya yang santun atau tidak senonoh serta sesuai moral ajaran Konfusianisme menjadi alasan utama bintang K-pop menarik perhatian banyak penggemar (Maliangkay, 2007: 2).

Sebagai bangsa yang mengalami periode kolonialisme, perang saudara, dan opresi budaya dari Jepang, Korea Selatan mampu mengatasi marginalitas budaya yang dialami melalui Korean Wave (Cho, 2005: 173–174). Seperti yang dikutip dari Cho, “To the people of a ‘marginal country’, who had for so long lived under the oppressive vulture of other countries, the news that their own culture was influencing other countries’ cultures could have been nothing other than amazing and wonderful

Korean Wave di Indonesia

Beberapa windu belakang, drama seri asal Korea Selatan mulai menempati posisi di hati pemirsa Indonesia. Endless Lovemerupakan salah satu penanda awal demam Korea di Indonesia. Sejak ditayangkan di Indosiar tahun 2001, drama Korea lainnya makin marak disuguhkan di televisi nasional Indonesia.  Beberapa di antaranya adalah Winter Sonata tayang di SCTV pada tahun 2002, Dae Jang Geum atau Jewel in Palace yang tayang di Indosiar pada tahun 2005, Boys Over Flowertayang di Indosiar dan RCTI pada tahun 2009, Personal Taste tayang di Trans7 pada tahun 2010, Descendants of the Sunyang tayang di RCTI tahun 2016, dan Goblin tayang di Global TV tahun 2017.

Hubungan Indonesia dan Korea Selatan mengalami peningkatan signifikan setelah ditandatanganinya Joint Declaration on Strategic Partnership oleh Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Korea Selatan ke-9, Roh Moo Hyun, pada tanggal 4 Desember 2006 di Jakarta (KBRI Seoul, 2014). Deklarasi ini bertujuan mempromosikan persahabatan dan kerjasama kedua negara pada abad 21 khususnya untuk tiga pilar kerjasama di bidang i) politik dan keamanan, ii) ekonomi, iii) sosial budaya. Dalam bidang sosial budaya, kedua negara aktif menyelenggarakan berbagai promosi budaya seperti Korea Indonesia Festival (2014), Korea-Indonesia Film Festival (2014), Korea-Indonesia Week Festival (2014), Jakarta Seoul Festival (2015) dan Indonesia Preliminary K-pop World Festival (2016).

Pengaruh Korean Wave terhadap Pariwisata Korea Selatan

Perkembangan Korean Wave secara langsung memengaruhi pariwisata Korea Selatan. Pada tahun 2004 kunjungan wisata sebagai efek dari Korean Wave mencapai pemasukan 825 juta dollar, sementara tahun 2011, pemasukan pariwisata sebesar 937 juta dollar berasal dari pengaruh K-drama (Kim dkk, 2009). Di Hongkong bahkan sebanyak 28.3% orang yang berkunjung ke Korea Selatan menyatakan terpengaruh oleh K-drama, angka itu masih lebih kecil dibandingkan jumlah wisatawan Hongkong yang berkunjung ke negeri ginseng karena K-food (Oxford Economics, 2014: 13). Meskipun sebenarnya ketertarikan terhadap K-food juga merupakan pengaruh dari K-drama.

Sebelum fenomena Korean Wave merebak di seluruh dunia, Korea Selatan bukanlah tujuan wisata yang populer. Sebab, Jepang dan Cina adalah destinasi wisata Asia yang lebih dikenal. Berkat pesona Korean Wave terutama K-pop dan K-drama, Korea Selatan berhasil menyusul Jepang menjadi salah satu negara tujuan wisata Asia yang populer di dunia. Wisatawan paling banyak mengunjungi lokasi pembuatan K-drama yang mereka lihat di layar kaca. Selain itu, menurut Direktur Divisi Usaha Wisata Korea Tourism Organization (KTO), Oh Je Seong, destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi adalah objek wisata budaya, Namsan Tower, wisata belanja, dan kota Seoul. Ibukota Korea Selatan itu bahkan menjadi kota ke-sembilan yang paling banyak dikunjungi wisatawan di dunia (Khoiri, CNN Indonesia, 12 Februari 2017).

Untuk mempromosikan budayanya ke seluruh dunia, pemerintah Korea Selatan bekerja sama dengan stasiun televisi seperti KBS, SBS, MNet, dan tvN. Stasiun televisi itu secara berkala menayangkan K-drama terbaru tidak hanya di Korea Selatan tapi juga di negara lain seperti Indonesia, Jepang, dan China. Menurut data statistik pariwisata Korea Selatan yang dikeluarkan oleh KTO, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Korea Selatan pada tahun 2016 pun berjumlah 17.2 juta jiwa, dengan kata lain, naik 30.3% dari tahun 2017 yang berjumlah 13.2 wisatawan (Mustafa, CNN Indonesia, 15 Februari 2017). Sementara itu, menurut Duta Besar Republik Korea, Kim Chang Beom, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan periode Januari-Juli 2018 terhitung 139.839 orang atau naik 12% dari tahun sebelumnya (Ika, Kompas, 16 Oktober 2018).

Beberapa alasan yang melatarbelakangi peningkatan kunjungan wisatawan yaitu destinasi wilayah Asia dianggap lebih aman daripada Eropa yang terjadi kasus-kasus teroris dan pengaruh Korean Wave salah satunya terlihat dari suksesnya drama Korea Descendants of the Sun yang tayang pada tahun 2016 (Prodjo, Kompas, 4 Agustus 2016). Promosi tiket perjalanan wisata dan pembukaan rute baru maskapai penerbangan Korean Air pun disebut sebagai aspek meningkatnya jumlah wisatawan ke Korea Selatan (Mustafa, CNN Indonesia, 15 Februari 2017).

“Drama Descendants of the Sun sudah mulai ditayangkan di salah satu stasiun televisi nasional di Indonesia. Dan mulai bulan Agustus sampai bulan September nanti video promosi pariwisata Korea yang dibintangi oleh Song Joong Ki akan sering muncul di beberapa stasiun televisi di Indonesia. Hal tersebut diharapkan dapat semakin menarik minat wisatawan Indonesia untuk berkunjung ke Korea,” kata Direktur KTO Jakarta, Oh Hyonjae dalam siaran pers.(Kompas, 4 Agustus 2016)

Peningkatan wisatawan asal Indonesia yang notabene mayoritas Muslim pun membuat Korea Selatan mulai berbenah dan mengkampanyekan diri sebagai destinasi wisata yang ramah Muslim. Menurut Direktur KTO, Oh Hyeonjae, seperti yang dikutip dari CNN Indonesia, “Indonesia, dengan jumlah penduduk 250 juta orang, merupakan negara berpenduduk terbanyak ke-empat di dunia. Penduduk mayoritas Muslimnya juga yang terbanyak di dunia. Bagi kami, Indonesia akan menjadi pasar yang besar bagi industri pariwisata kami.” (Mustafa, CNN Indonesia, 15 Februari 2017). Beberapa cara yang ditempuh seperti penyediaan tempat ibadah dan restoran halal yang berada di pusat perbelanjaan, stasiun, dan bandara. Di Seoul sendiri telah ada tujuh puluh restoran bersertifikat halal yang mayoritas berada di Itaewon, salah satu kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara (Khoiri, Detik News, 12 Februari 2017).

Korean Wave dan Soft Power

Korean Wave menjelma menjadi salah satu sarana diplomasi Korea Selatan dengan negara-negara lain. Korea Selatan termasuk dalam jajaran tiga puluh negara di dunia yang memiliki kekuatan soft power. Pada tahun 2018, negara ginseng ini menempati posisi kedua untuk negara soft power di Asia (The Soft Power 30, 2018: 88). Sementara itu, meskipun Indonesia belum memasuki jajaran 30 negara soft power terbesar dunia, namun Indonesia berhasil menempati posisi kesembilan untuk negara soft power tingkat Asia setelah Jepang, Korea Selatan, Singapura, China, Taiwan, Thailand, Malaysia, dan India (The Soft Power 30, 2018: 88).

Tabel Peringkat Soft Power Dunia untuk Negara-Negara di Asia

Negara (sesuai abjad) 2016 2017 2018
China 28 25 27
Jepang 7 6 5
Korea Selatan 22 21 20
Singapura 19 20 21

Sumber: Olah data dari The Soft Power 30 tahun 2016, 2017, dan 2018

Pemerintah Korea Selatan dianggap sukses dalam mempromosikan budaya populernya melalui media seperti drama, film, dan lagu. Fenomena Korean Wave tidak hanya muncul sebagai pengaruh budaya, tapi juga membuat Korea Selatan terlihat lebih ramah dan familiar di antara negara-negara Asia. Kesuksesan drama Korea sedikit banyak menunjukkan superiorisme dari drama Barat (Hollywood). Saat Asia mampu merepresentasikan dan menampilkan nilai-nilainya kepada khalayak banyak. Korean Wave memiliki kemampuan untuk mendominasi produksi dan distribusi produk budaya. Dengan kata lain, memiliki implikasi nyata pada kekuatan ekonomi Korea Selatan.

Budaya populer dan media secara berkala diidentifikasikan sebagai sumber soft power. Secara khusus budaya populer Korea digunakan sebagai kekuatan untuk mendorong produk budaya dan menaikkan perekonomian negara. Korea Selatan pun sukses melakukannya baik di level regional maupun internasional. Korean Wave kemudian menjadi refleksi kebanggaan nasional.

Seiring peningkatan perekonomian Korea Selatan melalui produk budaya populer, Korea Selatan kemudian mampu menjadi negara donor bagi organisasi internasional seperti WHO, Unicef, dan IVI dengan total 40 juta dollar dibandingkan tahun 2005 yang hanya 2 juta dollar. Dengan menjadi negara donor, Korea Selatan memiliki potensi besar untuk membangun soft power dan memberikan pengaruhnya bagi permasalahan dunia. (Editor: Ibnu Nadzir)

Referensi

Sumber gambar unggulan: https://quod.lib.umich.edu/i/iij/11645653.0002.102/–hallyu-20-the-new-korean-wave-in-the-creative-industry?rgn=main;view=fulltext

CHO, H.-J. (2005). Reading the ‘Korean Wave’ as a Sign of Global Shift. Korea Journal. 45(4), 147–182

Dewabrata, Wisnu. http://internasional.kompas.com/read/2013/10/21/0616412/K-Pop.Soft.Power.Korea.Selatan

Ika, Aprillia. “Pariwisata Korea “Booming”, Indonesia Perlu Tiru 7 Hal Ini, Kompas, 16 Oktober 2018

KBRI Seoul. (2014). Bilateral RI Korsel. http://www.kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/indokor diakses pada 9 Februari 2017

Khoiri, Ahmad Masaul. “Turis Muslim Meningkat, Korsel Siap Perbanyak Musala dan Tempat Makan Halal”, Detik News, 12 Februari 2017, https://travel.detik.com/international-destination/d-3420358/turis-muslim-meningkat-korsel-siap-perbanyak-musala-dan-tempat-makan-halal

Khoiri, Agniya. “Nol Komplain Jadi Langkah Korea Selatan Majukan Pariwisata”, CNN Indonesia, 12 Februari 2017, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170210150401-269-192646/nol-komplain-jadi-langkah-korea-selatan-majukan-pariwisata/ Kim, Bok-rae.(2015). Past, Present and Future of Hallyu (Korean Wave). American International Journal of Contemporary Research Vol. 5, No. 5; October 2015, p.154-160, http://www.aijcrnet.com/journals/Vol_5_No_5_October_2015/19.pdf

Kim, S., Long, P. and Robinson, M., (2009) “Small Screen Big Tourism: The Role of Popular Korean Television Dramas in South Korean Tourism” Tourism Geographies, Vol. 11, No. 3

Maliangkay, Roald H. (2007). The Myth of Soft Power: Selling Korean Pop Music Abroad. http://ieas.berkeley.edu/events/pdf/2007.10.05_Maliangkay.pdf

Mustafa, Ardita. “Indonesia Sumbang 295 Ribu Wisatawan ke Korea Selatan”, CNN Indonesia, 15 Februari 2017, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170214113236-269-193388/indonesia-sumbang-295-ribu-wisatawan-ke-korea-selatan/

Mori, Yoshitaka. “Winter Sonata and Cultural Practices of Active Fans in Japan: Considering MiddleAged Women as Cultural Agents.” East Asian Pop Culture: Analysing the Korean Wave. Ed. Beng Huat. Chua and Kōichi Iwabuchi. Hong Kong: Hong Kong UP, 2008. 127. Print.

Oxford Economics. (2014). The Economic Contribution of the Film and Television Industries in South Korea. Oxford: Oxford Economics

Prodjo, Wahyu Adityo. “Jumlah Turis Indonesia ke Korsel Meningkat. Ini Penyebabnya…”, Kompas, 4 Agustus 2016, http://travel.kompas.com/read/2016/08/04/050300927/Jumlah.Turis.Indonesia.ke.Korsel.Meningkat.Ini.Penyebabnya.

Sang-yeon, Sung. “Why Are Asians Attracted to Korean Pop Culture.” Ed. The Korea Herald. Korean Wave. Gyeonggi-do, Korea: Jimoondang, 2008. 11. Print.

The Soft Power 30. (2016). A Global Ranking of Soft Power. London: Portland PR Limited

The Soft Power 30. (2017). A Global Ranking of Soft Power. London: Portland PR Limited

The Soft Power 30. (2018). A Global Ranking of Soft Power. London: Portland PR Limited

*) Diterbitkan pertama kali di http://pmb.lipi.go.id/korean-wave-pariwisata-soft-power-dan-gerakan-ekspansi-budaya-pop/ pada 5 Desember 2018

 

 

Advertisements

Berkenalan dengan Cosplay sebagai Contents Tourism di Kampus Tama

Oleh Ranny Rastati (Peneliti PMB LIPI)

Saat menghadiri 16th Annual International Conference on Japanese Studies di Filipina pada Februari lalu, saya bertemu dengan Profesor Philip Seaton dari Hokkaido University (kini Tokyo University of Foreign Studies). Rupanya, ia telah mendengar tentang riset hijab cosplay yang saya lakukan dari kolega Filipina bernama Karl Ian Cheng Hua. Profesor Philip pun mengundang saya untuk menghadiri simposium terbatas bernama Transnational Contents Tourism in Europe and Asia bertempat di Tokyo University of Foreign Studies, kampus Tama-Tokyo. Lebih lanjut, ia berkata bahwa hasil simposium akan diterbitkan dalam buku yang masing-masing bab-nya ditulis oleh peserta acara tersebut. Tanpa pikir panjang, saya pun bersedia menghadiri simposium yang berlangsung pada bulan Juni.

Tanpa saya sadari, simposium ternyata berlangsung pada saat bulan Ramadhan. Jika di Indonesia durasi puasa hanya sekitar 13.5 jam, lama puasa di Jepang ternyata lebih panjang tiga jam. Untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat selama berpuasa, saya memutuskan untuk menginap di hotel yang tak jauh dari lokasi simposium. Jarak dari hotel ke kampus yang hanya 400 meter sangat memudahkan perjalanan ketika saya harus kembali ke hotel untuk melaksanakan ibadah sholat. Beruntung, meskipun Jepang sudah memasuki musim panas, selama saya berada di Tokyo cuaca hanya berkisar antara 17-22 derajat dan beberapa kali disertai hujan.

tufs
Dokumentasi oleh Jang Kyungjae dan Takayoshi Yamamura

 

Simposium yang berlangsung selama empat hari ini dihadiri oleh 19 akademisi yang berasal dari Eropa dan Asia. Meskipun berasal dari latar belakang keilmuan yang berbeda, benang merah penelitian kami bermuara pada contents tourism. Saya pun jadi lebih memahami hakikat contents tourism yang merupakan pariwisata yang terinspirasi dari konten sebuah produk budaya populer seperti novel, film, anime, dan game (Seaton dan Yamamura, 2015).

Salah satu contoh kasus di Indonesia yang paling menarik adalah kepopuleran novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Berkat novel yang diangkat menjadi film ini,  Kecamatan Gantong di Belitung Timur yang tadinya bukan daerah tujuan wisata kemudian menjadi salah satu destinasi wisata yang populer di Indonesia. Dengan berkunjung ke Gantong, para fans Laskar Pelangi dapat melihat dari dekat kehidupan Ikal dan kawan-kawannya. Replika SD Laskar Pelangi, Museum Kata Andrea Hirata dan Pantai Tanjung Tinggi dapat menjadi pengobat rindu bagi penonton film ketiga terlaris di Indonesia yang ditonton sebanyak 4.719.453 kali (Yulistara, CNBC Indonesia, 9 April 2018).

34750813_10155786425698020_8347675351056384000_n

 

Dalam simposium ini, saya mempresentasikan penelitian berjudul Indonesian Cosplay Tourism. Berangkat dari interaksi dengan teman-teman cosplayer yang ketika ditanya ,“Apa impianmu?”, mayoritas menjawab, “(Saya) ingin ke Jepang.” Namun, jumlah cosplayer Indonesia yang ber-cosplay di Jepang tidak terlalu signifikan karena kendala jarak, bahasa, dan finansial.

Meskipun demikian, festival Jepang yang diselenggarakan di Indonesia seperti Gelar Jepang UI (sejak 1994), Ennichisai (sejak 2010), dan festival lainnya, mampu memberikan nuansa seperti di Jepang. Kazeyukii, hijab cosplayer asal Bandung, berpendapat event Ennichisai yang digelar 30 Juni-1 Juni 2018 lalu, memiliki konsep acara yang bagus karena dihadiri oleh penampil yang berbakat. Namun, pengunjung yang ramai membuatnya jadi tidak dapat menikmati dekorasi ala Jepang. Meskipun demikian, venue event yang luas membuat pengunjung puas karena stand yang dihadirkan juga banyak. Dengan dekorasi ala Jepang seperti bunga Sakura, pertunjukan Yosakoi, kuliner Jepang, dan kesempatan ber-cosplay atau sekedar memakai Yukata, para penggemar budaya populer Jepang dapat merasakan atmosfir Jepang tanpa perlu jauh-jauh ke negara itu.

Festival Sakura Matsuri (Sumber: http://mediaindonesia.com/read/detail/100030-lippo-group-gelar-festival-sakura-matsuri-2017)
Festival Sakura Matsuri (Sumber: http://mediaindonesia.com/read/detail/100030-lippo-group-gelar-festival-sakura-matsuri-2017)

 

Yang menjadi kejutan adalah beberapa peserta simposium juga merupakan cosplayer yang aktif di berbagai event di Jepang. Dari presentasi yang saya sampaikan, salah satu peserta simposium bernama Takayoshi Yamamura berpendapat bahwa cosplay sejatinya memiliki ciri yang terlokalisasi di setiap negara. Jika cosplay di Jepang lebih fokus kepada karakter dari produk budaya pop seperti anime dan manga, maka di Eropa, cosplay memiliki definisi yang lebih luas. Hal ini terlihat dari pendapat beberapa peserta simposium yang menganggap bahwa parade Jane Austin di Inggris dapat diklasifikasikan sebagai cosplay.

Di Indonesia sendiri fenomena perluasan definisi cosplay pun semakin kental dalam beberapa tahun belakangan ketika cosplay tidak melulu soal budaya pop Jepang. Karakter-karakter dari Amerika dan Cina seperti Iron Man, Elsa, dan Kera Sakti mulai banyak ditampilkan oleh penggemar cosplay. Belakangan ini, cosplayer Indonesia bahkan mulai mengcosplaykan sesuatu yang bukan karakter budaya pop seperti Satpam dan Pak Lurah yang dicosplaykan menggunakan peci, baju batik, dan membawa map. Bahkan, ada pula yang mengcosplaykan tokoh manusia seperti Sandiaga Uno dan Indro Warkop DKI. Sesuatu yang tidak lazim ditemukan dalam cosplay di Jepang. Karakter yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari itu  kemudian dimasukkan dalam kategori cosplay original.

Padahal beberapa tahun sebelumnya, cosplay original lebih mencirikan fashion ala anak muda Harajuku di Jepang. Meskipun awalnya saya merasa bahwa ini akan menjadi sebuah kebingungan dan dapat diperdebatkan, namun perkembangan yang terjadi dalam dunia cosplay tampaknya semakin melegitimasi bahwa cosplay adalah sebuah proyek kesenangan yang bersifat cair. Siapapun dapat turut merayakannya tanpa perlu dibatasi oleh aturan yang terlalu ketat dan dapat merusak kesenangan itu sendiri. (Editor Ibnu Nadzir)

Daftar Pustaka

Seaton, Philip dan Takayoshi Yamamura. 2015. Japanese Popular Culture and Contents Tourism – Introduction, Japan Forum, 27:1, 1-11, DOI: 10.1080/09555803.2014.962564

Yulistara, Arina,. “10 Film Indonesia Terlaris, Dilan Teratas di 2018”, CNBC Indonesia, 9 April 2018, https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20180409194021-33-10330/10-film-indonesia-terlaris-dilan-teratas-di-2018(diakses 5 Juli 2018)

*) Dipublikasikan pertama kali di http://pmb.lipi.go.id/berkenalan-dengan-cosplay-sebagai-contents-tourism-di-kampus-tama/

Ketika Islam dan Budaya Populer Jepang Bersemi di Washington DC

Oleh Ranny Rastati (Peneliti PMB LIPI)

Tahun 2018 adalah kali kedua saya mengikuti konferensi Association for Asian Studies (AAS). Jika tahun sebelumnya saya hanya menjadi peserta aktif di AAS Toronto-Kanada, maka tahun ini saya berkesempatan menjadi pembicara yang tergabung dalam panel Islam and Japan Pop Culture. Sebuah tema besar yang menurut pengamatan saya sedang menjadi isu hangat nan seksi di mata para sarjana internasional.

Dari awal saya merasa tertarik untuk membahas pertemuan antara agama dan budaya populer yang saat ini sedang muncul sebagai fenomena yang marak terjadi. Berbekal studi tentang hijab cosplay, saya pun mengajak tiga orang rekan untuk membentuk tim dan mengirim proposal ke panitia konferensi. Berbekal jejaring yang saya dapatkan dari konferensi dan kegiatan sebelumnya, terkumpullah ilmuan-ilmuan muda yang memiliki minat sama dengan saya. Mereka adalah Himawan Pramata dari Universitas Indonesia dengan tema novel Islami bertema Jepang, Suraya Md Nasir dari School of Manga Kyoto yang membahas Manga Islami di Malaysia, dan Roberto Masami dari Universitas Bina Nusantara yang meneliti halal food dan konsep omotenashi Jepang.

Karena memiliki inisiatif membentuk panel, maka saya pun harus mengampu tanggung jawab sebagai chair merangkap organizer. Selain mengumpulkan abstrak dari seluruh anggota, saya pun harus membuat elaborasi riset tim yang menunjukkan benang merah masing-masing tema individu. Dengan mengucap basmallah, proposal yang disiapkan pun saya kirimkan ke email panitia.

29512431_10155622407718020_7654664427511376316_n

Secara garis besar, panel Islam and Japan Popular Culture menitikberatkan pada pertemuan antara nilai-nilai Islam dengan budaya populer yang semakin digemari khususnya di Indonesia dan Malaysia. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, generasi muda di Indonesia dan Malaysia menghabiskan masa kecilnya dengan mengkonsumsi manga (komik Jepang) dan anime (animasi Jepang) seperti Doraemon, Naruto, dan One Piece tanpa mengabaikan ajaran agama yang dianut. Anak muda Muslim malah melihat budaya populer Jepang sebagai fenomena menarik yang dapat dikombinasikan dengan nilai-nilai Islam.

Hijab cosplay misalnya, menjadi sebuah solusi bagi pemakai hijab yang ingin ber-cosplay tanpa melepas hijab yang ia kenakan. Hijab cosplaykemudian menjadi penanda religiusitas dari para penggemar budaya Jepang. Dalam perkembangannya, hijab cosplay pun memiliki karakteristiknya sendiri yaitu hijab cosplay stylish (bergaya) dan hijab cosplay syar’i. Jika hijab cosplay stylish lebih mengedepankan gaya dan kostum seperti membentuk hijab seperti model rambut karakter yang di-cosplay-kan, hijab cosplay syar’i lebih memandang hijab sebagai salah satu bentuk dakwah kreatif yang mengikuti perkembangan zaman. Kostum yang dikenakan pun lebih longgar, menutup dada, dan model hijab yang cenderung konvensional.

Senada dengan hijab cosplay, presentasi tentang manga Islami yang disampaikan oleh Suraya pun menjelaskan bahwa munculnya manga Islami di Malaysia dilakukan untuk mengedepankan isu identitas lokal dan representasi Islam yang dianggap sebagai bagian dari identitas Malaysia. Manga Islami Malaysia pun berpotensi menjadi produk budaya global yang dapat diekspor ke negara-negara Islam.

Selain itu, tema lain yang diangkat dalam panel adalah novel Islami bernuansa Jepang yang disampaikan oleh Himawan. Jepang dianggap sebagai objek kekaguman di kalangan anak muda Indonesia. Novel religius bertema Jepang pun dibuat sebagai salah satu misi dakwah yang sesuai dengan selera pasar. Tema terakhir adalah halal food yang dibawakan oleh Roberto. Konsep halal food sejatinya mirip dengan konsep omotenashi yang ide dasarnya adalah mengantisipasi kebutuhan pelanggan. Perkembangan halal food di Jepang merupakan pengejawantahan dari konsep omotenashi yang berupaya memberikan layanan terbaik kepada pelanggan.

Satu hal yang saya syukuri adalah apresiasi dari para peserta mengenai panel Islam dan Japan Pop Culture. Review yang baik kami terima mulai dari dianggap oleh salah satu peserta sebagai panel terbaik yang ia ikuti selama konferensi 4 hari hingga disebut sebagai para pionir dari isu yang tengah menyeruak di kalangan akademisi sosial dunia.

29541616_10155622587983020_4601267903637094821_n

Selepas presentasi, kami banyak dihampiri oleh audiens yang berminat lebih jauh tentang pertemuan antara agama dan budaya populer. Seiring dengan mekarnya bunga-bunga musim semi, saya merasakan sebuah harapan akan terjalinnya kedalaman pemahaman tentang sebuah negosiasi yang terjadi antara identitas keislaman dan identitas kehobian yang bertemu di persimpangan. Saatnya bangsa Indonesia menerjemahkan dirinya sendiri dan dari sudut pandangnya sendiri (Ranny Rastati, M.Si/Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI)

*) Dipublikasikan pertama kali di http://psdr.lipi.go.id/news-and-events/opinions/ketika-islam-dan-budaya-populer-jepang-bersemi-di-washington-dc pada 28 Juni 2018

Bicara Soal Halal Travel di Kota Jeepney

Oleh Ranny Rastati (Peneliti PMB LIPI)

16th Annual International Conference on Japanese Studies di Ateneo de Manila University menjadi pengalaman kedua saya mengikuti konferensi di Filipina. Kunjungan pertama terjadi pada 2016 ketika saya berkesempatan menjadi salah satu pemakalah di JSA-ASEAN yang berlangsung di Cebu. Pengalaman ini kali ini menjadi menarik karena, selain dapat menjalin relasi baru dengan sesama akademisi, saya juga dapat melepas rindu bersama para kolega dari Filipina yang telah saya kenal sebelumnya.

Perjalanan saya dari Jakarta-Manila ditempuh dalam waktu 3 jam 40 menit. Saya mujur karena  terdapat penerbangan langsung dari Jakarta-Manila, sehingga tidak perlu melakukan transit di kota lain. Bersama seorang rekan dari Universitas Indonesia bernama Filia, saya pun bertolak menuju Ninoy Aquino International Airport. Ketika kami sampai di Manila, waktu telah menunjukkan pukul 19.30 malam. Kami tidak beruntung karena ternyata tiba di Filipina pada jam pulang kantor adalah kesalahan besar. Jalanan macet adalah yang pertama kali menyapa dalam setiap kilometer yang kami tempuh. Jika kondisi normal, perjalanan kami dari bandara ke hotel seharusnya hanya memakan waktu 40 menit. Namun kami ternyata harus berakrab ria dengan jalanan Manila selama 2.5 jam.

Jeepney di Manila (Sumber: static.straitstimes.com)

Pemandangan kota Manila sejatinya mengingatkan saya pada Jakarta. Bagi saya ada terlalu banyak kemiripan antara dua kota tersebut. Jalan layang, toko-toko sepanjang jalan, hamparan tiang listrik dengan kabel menjuntai, pedagang kali lima di persimpangan, hingga anak jalanan semua terasa serupa dengan Jakarta yang kita kenal. Yang membedakan Manila dengan kota Jakarta hanyalah bahasa yang digunakan. Selain itu, Manila juga memiliki transportasi umum khas bernama jeepney yang fungsinya mirip dengan angkot di Jakarta. Namun, dibandingkan angkot, jeepney memiliki dimensi lebih besar dan kapasitas penumpang lebih banyak. Selain itu, jeepney juga memiliki warna-warna yang cenderung cerah seperti merah, tosca, dan kuning.

Saya merasa tersanjung dengan penyambutan yang dilakukan oleh panitia. Setiap pagi kami dijemput dari hotel untuk bersama-sama menuju kampus Ateneo de Manila di Quezon City. Bertema Endless Discovery: Re-evaluating Japan’s Travel and Tourism, konferensi yang mendapat sponsor dari Toshiba Foundation dan Japan National Tourism Organization (JNTO) ini mengusung lima pembicara utama dari Jepang, Amerika Serikat, dan Australia, serta sepuluh pemakalah dari Filipina, Indonesia, Jepang, Vietnam, dan Thailand.

Saat presentasi di Ateneo de Manila University (Dok: Filia)

Saya memberikan presentasi berjudul Indonesian Netizen Perception on Halal Tourism and Sharia Tourism. Wisata berkonsep halal merupakan tren terbaru dari industri pariwisata dunia mengingat saat ini sudah ada 106 juta muslim yang melakukan perjalanan liburan (Husain, 2015). Pangsa pasar senilai 145 milyar dollar Amerika ini mencakup 10% dari seluruh bisnis wisata dunia. Sebuah jumlah yang patut diberikan perhatian lebih lanjut.

Selain mendengarkan presentasi dari rekan-rekan lain, kami juga diberikan kesempatan untuk saling berdiskusi secara informal saat makan malam bersama. Beberapa mahasiswa dan dosen dari Ateneo de Manila dan University of Philippines (UP) pun turut hadir dalam kesempatan itu. Pada momen itu, ada satu hal yang saya sadari dari kuliner Filipina. Jenis makanan di Filipina memiliki  kedekatan rasa dengan masakan Indonesia. Kedua tradisi kuliner Asia tenggara tersebut sama-sama menggunakan rempah dasar seperti bawang, jahe, dan cabai. Namun, pada saat yang sama masakan Filipina juga sangat dipengaruhi oleh cita rasa wilayah lain seperti  Tiongkok, Spanyol, dan Meksiko.

Foto Bersama Para Pembicara Utama dan Pemakalah (Dok: Ying Nirin)

Sebagai Muslim yang sedang berada di negara tetangga, saya berusaha agar asupan tetap terjaga kehalalannya. Beruntung, rekan saya yang sekaligus penyelenggara bernama Karl Ian Cheng Hua dari Ateneo de Manila University memperhatikan kombinasi menu yang disajikan. Selain menu daging, kami pun disuguhi masakan jenis seafood dan sayuran yang halal. Karl pun kerap memberitahu mana yang boleh saya santap dan mana yang tidak.

Lalu, bagaimana dengan pengalaman halal saya selama di Manila? Meskipun banyak restoran yang menyediakan menu halal, saya tidak memiliki banyak kesempatan untuk mencicipinya.  Namun, di supermarket Robinson saya dapat menemukan bagian cemilan berlabel halal. Di bawah sertifikasi dari Islamic Da’wah Council of the Philippines (IDCP), makanan produksi Filipina itu seperti mangga kering, biskuit, hingga kacang-kacangan dapat dikonsumsi oleh muslim tanpa rasa khawatir. (Editor Ibnu Nadzir)

Daftar Pustaka

Husain, Oman. “This Entrepreneur Left a 20-Year Corporate Career to Changer the Way Muslim Travel”, Techniasia, 21 Agustus 2015, https://www.techniasia.com/entrepreneur-left-career-change-muslim-travel(diakses 28 Januari 2018)

*) Dipublikasikan pertama kali di http://pmb.lipi.go.id/bicara-soal-halal-travel-di-kota-jeepney/

 

 

Memotret Toronto Melalui Kata-Kata

Oleh Ranny Rastati

Pada Maret 2017 lalu, saya beserta sembilan orang rekan lainnya bertolak dari Jakarta menuju Toronto untuk menghadiri konferensi Association forAsian Studies (AAS) dengan sponsor dari Japan Foundation. Perjalanan yang memakan waktu hampir 24 jam itu memberikan pengalaman yang luar biasa. Betapa tidak, setelah transit tiga jam di Hongkong, kami masih harus menempuh perjalanan berikutnya selama lima belas jam, dengan total hampir 17.000 km dari tanah air.

Mendarat di Toronto Pearson International Airport, kota ini menyambut kami dengan hamparan salju yang masih tersisa. Bagi orang yang tinggal di wilayah ekuator dengan suhu harian rata-rata 28-30 derajat celcius, pengalaman melihat salju selalu menjadi hal yang istimewa. Seperti yang kerap saya lihat dalam film, kepingan salju itu sejatinya memiliki bentuk bermacam-macam seperti jarum, prisma, dan bintang.

Untuk menuju hotel, kami menaiki Union Pearson Express (UP Express), sebuah kereta yang menghubungkan terminal satu bandara hingga Union Station sebagai pemberhentian terakhir. Bermodalkan dua belas Dollar Canada (sekitar Rp121.000), dan waktu tempuh 25 menit, tibalah kami di downtown Toronto. Downtown Toronto sendiri adalah sebuah pusat bisnis yang terletak di Toronto, Ontario. Distrik ini diisi dengan gedung pencakar langit terbanyak ketiga di dunia setelah New York dan Chicago.

Hotel kami terletak hanya tiga ratus meter dari Union Station. Meskipun berjalan kaki sekitar lima menit, udara dingin dan malam yang menusuk kulit membuat kami bergegas menuju hotel untuk menghangatkan diri. Beruntung, tidak butuh waktu lama untuk menemukan arah menuju hotel.

11

Bermalam di zona waktu yang lebih lambat sebelas jam dari Jakarta, secara biologis tubuh mencoba  menyesuaikan diri dengan perbedaan yang ada. Waktu Subuh baru masuk pada pukul 05.30 pagi, sementara pada pukul tujuh pagi matahari baru beranjak naik perlahan-lahan. Hari pertama rasanya cukup kewalahan karena malam terasa pagi dan pagi terasa malam. Mujur, pada malam pertama di Toronto saya dapat terlelap tanpa kendala yang berarti. Menikmati pagi di downtown Toronto, mata disuguhi pemandangan berupa bangunan yang berblok-blok sehingga tidak perlu khawatir tersesat karena setiap jalan saling berhubungan. Distrik ini tidak melulu hanya menyuguhkan aura bisnis, aroma turistik juga mudah ditemui berbagai di sudut kota. Sebut saja Canadian National Tower atau CN Tower, Ripley’s Aquarium of Canada, Toronto City Hall, dan Old City Hall.

Terletak sekitar tujuh ratus meter dari Union Station, CN Tower dapat ditempuh berjalan kaki selama lima belas menit. Namun, sesungguhnya pengunjung kerap memakan waktu lebih lama karena menyempatkan diri berfoto di titik-titik menarik sepanjang York Street dan Bremner Boulevard. Jalanan, keramaian kota, dan aktivitas warga lokal menjadi panorama yang unik untuk diabadikan dalam sebuah lensa.

12CN Tower yang menjadi ikon Toronto ini memiliki tinggi 553.3 meter. Sejak diresmikan pada tahun 1976, CN Tower menjadi tower tertinggi di dunia sebelum kemudian digantikan oleh Canton Tower (RRT) pada tahun 2008 dan Burj Khalifa (UAE) pada tahun 2010. Tidak hanya melihat kota dari atas ketinggian, melalui CN Tower pun kita dapat menyaksikan keindahan Matahari terbenam. Jangan khawatir, jam operasional tower ini dimulai pada pukul 9 pagi hingga 10.30 malam. Waktu yang panjang untuk bersantai tanpa terbelenggu oleh rezim waktu.

Bersebelahan dengan CN Tower, terdapat Ripley’s Aquarium of Canada yang dioperasikan oleh Ripley Entertainment. Tentu hampir semua orang mengenal Ripley Entertainment lewat salah satu programnya, yaitu Ripley’s Believe It or Not. Akuarium publik ini menawarkan eksibisi akuatik 16.000 satwa laut melalui sembilan galeri yaitu Canadian Waters, Rainbow Reef, Dangerous Lagoon, Discovery Centre, The Gallery, Ray Bay, Planet Jellies, Life Support Systems, dan Shoreline Gallery. Tampak banyak anak sekolah dan rombongan keluarga yang mengunjungi akuarium raksasa ini. Tiba-tiba saya terkenang Sea World, akuarium di Jakarta yang menjadi memori masa kecil bersama keluarga dan sahabat.

Sekitar 1.4 kilometer dari CN Tower dan Ripley’s Aquarium of Canada, kita dapat mengunjungi Toronto City Hall dan Old City Hall. Jarak yang cukup jauh itu tak terasa melelahkan meskipun ditempuh dengan berjalan kaki. Jika tak kuat dengan udara dingin, ada jalur pejalan kaki bawah tanah bernama PATH yang dapat menjadi pilihan. PATH yang beroperasi sejak 1987 adalah jalur pertokoan sepanjang 30 kilometer yang menyediakan berbagai pilihan tempat belanja. Tidak hanya itu, PATH juga terhubung dengan subway atau kereta bawah tanah dan lebih dari 50 gedung di area downtown Toronto.

Tiba di Toronto City Hall, kita akan menemukan bangunan bergaya arsitektur modern. Landmark  huruf TORONTO ini berada satu area dengan Nathan Phillips Square. Setiap huruf nampak nampak mencolok dengan pilihan warna yang bermacam-macam. Menurut saya, tempat ini layak menjadi salah satu wajib berfoto, atau bisa disebut “Jangan bilang pernah ke Toronto kalau belum berfoto di sana”.

 

Di depan landmark TORONTO tersedia arena skating yang beroperasi pada bulan November hingga Maret. Arena seluncur es ini bahkan tetap beroperasi pada malam Natal dan tahun baru. Pada musim panas, arena es pun berubah menjadi kolam yang dapat menjadi tempat menyejukkan diri dari hangatnya mentari. Kontras dengan Toronto City HallOld City Hall yang berada tak jauh dari Toronto City Hall menawarkan arsitektur bergaya arsitektur Romanesque Revival. Digunakan sejak 1899, Old City Hall masih berfungsi sebagai pengadilan hingga sekarang.

Beruntung pula, lokasi konferensi yang berada di Hotel Sheraton ini terletak di tengah seluruh objek wisata tersebut. Waktu rehat konferensi pun dimanfaatkan untuk berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Hanya dengan berjalan kaki selama 5-15 menit, kita dapat menjangkau berbagai sudut yang Instagramable.

Ada berbagai hal menarik yang terjadi selama konferensi. Kesempatan bertemu dengan berbagai akademisi dan ilmuan seluruh dunia, mendapat isu terkini yang disajikan di setiap panel, dan bertemu beberapa professor bidang studi Asia pun mewarnai setiap kegiatan. Yang paling berkesan bagi saya adalah berkenalan dengan Ian Condry, professor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Anne Imamura, professor dari Georgetown University. Bagi saya, keduanya adalah legenda di kalangan studi Jepang karena buku-bukunya yang banyak menginspirasi. Beberapa di antaranya adalah The Soul of Anime: Collaborative Creativity and Japan’s Media Success Story yang ditulis oleh Ian Condry dan Urban Japanese Housewives: At Home and in the Community oleh Anne Imamura. Setelah bercakap-cakap sejenak, saya pun menyempatkan diri untuk saling tukar kartu nama, berfoto dan meminta tanda tangan mereka.

 

Konferensi AAS merupakan pertemuan studi Asia terbesar yang diselenggarakan di Amerika Utara. Dengan panel berjumlah 370, konferensi tahunan ini dihadiri oleh lebih dari 3.000 peserta yang berasal dari seluruh dunia. Selain presentasi, ada pula ekspo film dan pameran buku. Saya merasa agak kewalahan karena durasi empat hari terlalu sebentar untuk menjajal seluruh sajian yang diberikan.

Pada malam terakhir konferensi, saya diundang makan malam oleh Japan Foundation di JW Marriot Hotel bersama puluhan penerima sponsor yang berasal dari berbagai wilayah seperti ASEAN, RRT, Korea Selatan, dan India. Kesempatan ini tentu sangat berharga karena dapat mempeluas jejaring dengan para Japanologis atau orang-orang yang melakukan studi tentang Jepang. Sebagai orang yang mendalami studi Jepang sejak 2004, pertemuan ini tidak hanya menambah relasi, tapi juga memperoleh informasi terkini yang sedang hangat dibicarakan.

 

Pengalaman mengikuti konferensi di Toronto tidak hanya menambah referensi aroma sebuah kota yang belum pernah dikunjungi, tapi juga lingkaran pergaulan akademis yang semakin meluas. Selain bertemu dengan peneliti dari berbagai negara, kesempatan berkenalan dengan para legenda studi Asia membuat pengalaman ini menjadi salah satu memori yang  menakjubkan. (Editor: Ibnu Nadzir)

*) Dipublikasikan pertama kali di http://pmb.lipi.go.id/memotret-toronto-melalui-kata-kata/

 

 

Generasi Selfie, Generasi Narsis

[Repost: Link artikel asli di -> http://pmb.lipi.go.id/generasi-selfie-generasi-narsis/ ]

Oleh Ranny Rastati (Peneliti Komunikasi PMB LIPI)

 

Siapa yang tidak mengetahui selfie? Selfie adalah istilah yang digunakan untuk seseorang yang mengambil foto dirinya sendiri. Menurut BBC (2013) frekuensi penggunaan kata selfie meningkat 17.000% pada tahun 2012. Bahkan pada 19 November 2013, Oxford Dictionary menjadikan selfie sebagai “Kata Tahun 2013” (Word of the Year).

Istilah selfie pertama kali digunakan oleh akun Hopey, mahasiswa University of England Australia, di forum ABC. Di forum itu ia membuat percakapan bertopik “Dissolvable Stitches” pada 13 September 2002 (Pearlman, 2013). Hopey menulis bahwa ia terjatuh di pesta ulang tahun ke 21 temannya. Bibirnya kemudian sobek sepanjang satu sentimeter dan perlu dijahit. Ia lalu mengunggah foto jahitan bibirnya dan meminta maaf karena terlihat buram karena itu adalah selfie.  “Um, drunk at a mates 21st, I tripped ofer [sic] and landed lip first (with front teeth coming a very close second) on a set of steps. I had a hole about 1cm long right through my bottom lip. And sorry about the focus, it was a selfie.”

Identitas akun Hopey yang tetap menjadi misteri itu memiliki tendensi untuk menggunakan akhiran “ie” dan “ey” saat melakukan menulis di forum online. Sebagai contoh, kata music ditulis menjadi musicey  dan television menjadi telly. Di Australia sendiri, lazim mengganti akhiran “ie” untuk membuat kata menjadi slang sehingga terasa lebih menarik (Pearlman, 2013).

Hopey_telegraph co uk
Selfie Hopey di Forum ABC tahun 2012 (Sumber: Telegraph.co.uk)

 

Meskipun istilah selfie digunakan sejak 2002, selfie pertama dunia telah dilakukan beberapa ratus tahun lalu. Robert Cornelius dari Philadelphia dipercaya sebagai orang pertama yang mempraktekkan selfie pada Oktober 1839 (Grenoble, 2013). Ia memfoto dirinya sendiri dengan cara duduk di belakang bingkai dan tidak bergerak selama 60 detik sampai kamera mengambil gambarnya. Selfie milik Cornelius memiliki keterangan tulisan di baliknya “The first light picture ever taken. 1839” atau foto cahaya pertama yang pernah diambil. 1839. Penggemar fotografi dan ahli kimia amatir itu juga dikenal sebagai salah satu orang pertama yang membuka toko fotografi di Amerika.

Robert Cornelius selfie_huffingtonpost
Selfie Robert Cornelius tahun 1839 (Sumber: huffingtonpost)

 

Putri bungsu Tsar Nicholas II Rusia bernama Anastasia Nikolaevna pun pernah melakukan selfie (The Daily Mail, 2013). Pada tahun 1913, Nikolaevna mengambil selfie dirinya melalui cermin menggunakan Kodak Brownie keluaran 1900. Itu adalah selfie yang diambil lima tahun sebelum kematiannya.

Anastasia_Dailymail
Selfie Anastasia Nikolaevna Tahun 1913 (Sumber: Dailymail)

 

Di Indonesia, tren selfie mulai populer sekitar akhir tahun 2013. Tren yang lazim di kalangan generasi digital ini salah satunya dipengaruhi oleh tersedianya fitur kamera depan ponsel yang memudahkan penggunanya untuk ber-selfie. Tidak hanya selfie, tongkat selfie  yang di Indonesia dikenal sebagai tongsis atau tongkat narsis pun menjadi populer. Tongsis dapat diatur tingkat panjang pendeknya memudahkan pengguna untuk selfie bersama pemandangan maupun dengan teman-teman.

Para generasi digital (Generasi Y dan Z) adalah generasi teknologi pertama yang tumbuh bersama perkembangan teknologi. Bagi mereka, selfie adalah bagian dari hidup sehingga lumrah untuk dibagikan di berbagai jejaring sosial (Wickel, 2015: 1). Selfie di media sosial baik di Facebook dan Instagram dianggap sebagai kontribusi terbesar dari meningkatnya perilaku narsisme di kalangan generasi digital. Benarkah demikian?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Professor Twenge dari San Diego State University menunjukkan bahwa level kenarsisan yang meningkat selama beberapa dekade membuat Generasi Y (lahir tahun 1980-1994) menjadi lebih egois dan menyerap semua yang ada lebih dari generasi sebelumnya (Firestone, 2012). Narsisme di sini diilustrasikan sebagai perasaan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain, memiliki keinginan untuk dikagumi oleh orang lain, dan berpartisipasi dalam pemikiran dan tingkah laku yang egois (Panek, Nardis & Konrath, 2013).

Studi senada dilakukan oleh Jesse Fox dan Margaret C Rooney dari Ohio State University pada 2015. Penelitian ini menganalisis hubungan antara kesukaan pada mengunggah dan mengedit (crop, filter) selfie terhadap kepribadian seseorang. Survei dilakukan kepada 1.000 responden usia 18-40 tahun. Hasil penelitian menunjukkan orang yang sering mengedit foto dan mengunggahnya ke media sosial kemungkinan besar memiliki setidaknya tiga gangguan kejiawaan yaitu narsisime, psikopatik, dan objektivitas diri yang disebut Dark Triad (Fox dan Rooney, 2015).

 

Daftar Pustaka

BBC. “‘Selfie’ named by Oxford Dictionaries as word of 2013”, BBC, 19 November 2013, http://www.bbc.com/news/uk-24992393 (diakses 5 Januari 2016)

Pearlman, Jonathan. “Australian man ‘invented the selfie after drunken night out’. Telegraph, 19 November 2013, http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/australiaandthepacific/australia/10459115/Australian-man-invented-the-selfie-after-drunken-night-out.html (diakses 5 Januari 2016)

Fox, Jesse, & Rooney, Margaret C. (2015). The Dark Triad and trait self-objectification as predictors of men’s use and self-presentation behaviors on social networking sites. Personality & Individual Differences, 76, 161-165. doi: 10.1016/j.paid.2014.12.017

Grenoble, Ryan. “This Photo Is (Probably) the World’s First Selfie”. Huffington Post, 12 Mei 2013 http://www.huffingtonpost.com/2013/12/05/worlds-first-selfie-1839-robert-cornelius_n_4392804.html (diakses 5 Januari 2016)\

The Daily Mail. “Now that’s a historical selfie! A teen Grand Duchess Anastasia is seen capturing her own reflection in 1913 Russia”. Daily Mail, 26 November 2013, http://www.dailymail.co.uk/femail/article-2514069/Russian-Grand-Duchess-Anastasia-seen-capturing-reflection-1913-Russia.html (diakses 5 Januari 2016)

Wickel, Taylor M. (2015). Narcissism and Social Networking Sites:  The Act of Taking Selfies. The Elon Journal of Undergraduate Research in Communications, Vol. 6, No. 1. North Carolina: Elon University