Category Archives: artikel bermanfaat

Laporan Royalti Buku DMM: Juli 2015

royalti juli

Salam,

Chibi Ranran Help Center

Advertisements

PROYEK KEBAIKAN JULI-AGUSTUS 2015: MAINAN UNTUK TKIT AR RAHMAN BOGOR

proyek kebaikan juli agustus 2015

Telah disalurkan 1 buah perosotan dan 1 buah jembatan pelangi untuk TK Islam Terpadu Ar Rahman di Bogor. Ketua TK ini, Bapak Asep, adalah guru kami semasa bersekolah di SMP 102 Jakarta. Dedikasi beliau terhadap dunia pendidikan membawanya mendirikan TK ini dengan dana swadaya. Semoga Allah merahmatinya. Aamin.

Terima kasih kepada rekan2 donatur tetap, donaturinsidental, simpatisan, dan tim volunteer Chibi Ranran Help Center sehingga seluruh proyek kebaikan dan program-program lainnya dapat terlaksana dengan lancar. Semoga senantiasa diberikan kebahagiaan dan keberkahan. Aamin.

Salam,

Chibi Ranran Help Center

Special Project: Daehan Minguk Manse Book

Buku Daehan Minguk Manse

Buku Daehan Minguk Manse: Bukan Satu, Bukan Dua, Tapi Tiga karya Daehan Minguk Manse INDONESIA Fans Club ini 50% royaltinya akan digunakan untuk kegiatan amal dan sosial melalui Chibi Ranran Help Center (CRHC).

Dengan membeli buku ini berarti kamu turut membantu Proyek Kebaikan dan Program 1.000 Buku dari CRHC.

Segera tersedia di toko buku terdekat seharga Rp69.900 atau melalui online shop. Jangan lupa beli yah ^^

Info lebih lanjut silahkan mengunjungi Fanpage Daehan Minguk Manse INDONESIA Fans Club melalui: https://www.facebook.com/DaehanMingukManseIndonesiaFansClub

Salam,
Chibi Ranran Help Center

#chibiranranhelpcenter #daehanmingukmanseindonesiafansclub#songtriplets #daehanmingukmanse #charity#donation #book#daehanmingukmansebook

Ketika yang Kau Dapat Tidak Seperti yang Kau Minta

Ketika yang kau dapat tak seperti yang kau minta apa reaksimu? Menangiskah? Kecewakah? Berhentikah berdoa? Apa? Tak mudah bukan menerima hal yang tak seperti rencana kita. Rencana indah yang menurut pikiran kita terbaik untuk kita. Pastinya. Tak mudah.

Aku berulang kali merasakan hal itu. Mendapati sesuatu yang tak seperti pintaku. Mendapat sesuatu yang tak seperti mimpiku. Padahal semua yang kupinta dan kuimpikan sudah kupikirkan matang-matang. Ia kuharapkan membawa sesuatu kebahagiaan. Malah sudah kupersiapkan ‘naskah cerita’ beserta ‘dialog-dialognya’ jika sudah benar mendapatkannya. Aku berlaku seperti sang sutradara untuk kehidupanku sendiri. Kubuat jalan cerita, mengisinya dengan dialog-dialog berirama dan mengakhiri setiap bagiannya dengan cerita indah yang terasa nyata.

Tapi sayang. Tak semua yang kumau berlaku kepadaku. Lalu apa selanjutnya langkahku? Berhentikah? Berbelok arahkah? Atau berjalan mundurkah? Yang kutahu aku hanya tetap melangkah. Walaupun perlahan dan kadang harus berhenti di tengah jalan. Sebab bekal yang kubawa hampir habis. Sebab energiku sangat mudah menipis. Karena keinginanku kadang mulai kuragukan. Namun, apakah pilihanku selain terus berjalan?

Kuucapkan selamat jika sejak awal kau dapat dengan mudah menentukan apa-apa saja yang akan kau lakukan. Saat sejak belia kau sudah tahu tujuanmu akan ke mana. Kuucapkan selamat. Namun, tak semua jiwa mendapat pencerahan seperti itu. Tak semua jiwa mendapat kesempatan seperti itu. Ada yang harus terus mencari untuk tahu apa makna hidup ini. Ada yang terus bertanya apa yang harus dilakukan untuk mengisi sisa hidup ini. Ada. Termasuk aku.

Jadi, apa yang akan kulakukan selanjutnya? Pastinya, aku akan tetap berjalan. Walaupun kadang aku terlalu lelah membawa beban pikiran. Walaupun terkadang aku khawatir akan habisnya bekal di perjalanan. Aku harus tetap berjalan. Karena aku masih menyimpan harapan, akan adanya sumur jernih di ujung jalan. Karena aku masih berharap akan bertemu dengannya di persimpangan jalan. Karena aku berharap. Masih berharap. Toh, roda disebut roda karena ia terus berputar bukan? Dan aku akan masih disebut manusia jika masih terus berusaha. Sekuat tenaga.

Oleh Rizqi Kiki Widiastuti

Alumni Sastra Cina Universitas Indonesia

Sebuah Cerita Lama

Ini cerita yang sudah lama, lamaaa sekali. Baru sekarang sempat di-posting karena baru buka lagi tulisan-tulisan yang lama.

Suatu hari saya membaca blog seorang kawan. Dia menyerapah di dalam  blognya. Berpikir kenapa selalu mengulangi kesalahan yang sama, bertemu dengan masalah yang sama, bahkan perasaan ingin jedotin–pala–ke–tembok yang sama. Hal ini sering saya alami, bahkan mungkin sampai sekarang. Satu hal yang paling sering terjadi itu, ya, masalah percintaan (tapi kalau masalah tentang ini, Alhamdulillah udah ngga lagi).

Daripada menggunjing kawan saya itu, biarlah saya bercerita tentang diri saya sendiri. Dulu saya pernah berjanji untuk tidak–akan–pernah pacaran (dan Alhamdulillah saya bisa memegang janji itu). Jadi, masalah saya berbeda dengan kebanyakan orang lainnya yang putus–nyambung atau lama pacaran–putus–stress sampe rasanya mau bunuh diri. masalah saya lebih gampang, suka sama seseorang–kebanyakan ngayal kalo dia suka balik–akhirnya patah hati. :)) *ngakak*

Tapi untuk saat itu, itulah hal yang paling berat bagi saya. Saya bukan orang yang pintar mengutarakan perasaan. Saya tidak pintar curhat, karena itu saya lebih sering sebagai pendengar. Dan seperti pengalaman kawan saya tadi, saya berulang kali “jatuh suka” (karena perasaan saya itu tidak seekstrim cinta) tapi hanya bisa berdiam diri dan akhirnya patah hati. Saya pun tidak perlu memandang mereka dari jauh, karena orang–orang yang saya suka adalah orang yang saya kenal, suatu hal yang makin menyakitkan bagi saya.

Permasalahan ini terus terjadi, saya tidak tahu kenapa, dan hasil akhirnya pun sama. Sampai suatu hari seorang kawan mengatakan kalau “Allah memberikan satu masalah atau ujian untuk kita selesaikan, agar kita bisa lebih baik dan naik derajatnya. Karena itu, kalau kita menemukan permasalahan atau ujian yang sama dan berulang, mungkin karena kita belum lulus ujian itu.” Saya langsung mematri kata-kata itu dalam hati.

 Lalu, kemudian hari, saya menemukan masalah “suka-menyuka” kembali. Saya menyukai salah seorang teman dan perasaan menyiksa itu pun terulang. Tapi teringat dengan ucapan teman saya, saya pun berpikir saya tidak mau menjadi orang bodoh sama yang tidak lulus-lulus. Dan akhirnya, dengan perasaan nothing–to–lose, saya pun menyatakan perasaan ke orang tersebut. Tapi saya tidak ingin menjadi “pacar” dia, saya hanya ingin lulus—lega dari perasaan yang mengukung saya. Simple as that. Tapi benar, setelah mengatakan apa yang ada di dalam hati, perasaan paling lega pun terasa. Barbell yang sebelumnya nyantol di hati pun terlepas menggelinding entah ke mana.

Saya bahagia, karena tak lama setelahnya saya pun menemukan orang yang menjadi pelengkap hidup saya. InsyaAllah, dia mungkin rapor lulus saya dari Allah.

Tidak bermaksud menyamakan permasalahan sepele saya dengan tulisan di blog kawan saya tadi, tapi saya hanya ingin meneruskan ucapan bijak teman saya, “Allah memberikan satu masalah atau ujian untuk kita selesaikan, agar kita bisa lebih baik dan naik derajatnya. Karena itu, kalau kita menemukan permasalahan atau ujian yang sama dan berulang, mungkin karena kita belum lulus ujian itu.”

Jadi, carilah penyebab masalah dan kesalahan yang membuatmu tidak lulus. Selesaikan dari titik itu. Jadilah lebih bijak dan jika kamu mendapatkan perlakuan tidak baik, jangan pernah berpikir kalau kamu pantas menerima hal itu.

Oleh:

Hikariya

30 Mei 2014– April 2015

Jalan-Jalan Gratis Ala Jurnalis

Ketemu sama artis masa kini sampai presiden Jokowi itu udah jadi makanan sehari-hari. Bisa masuk ke konser sampai bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis itu beberapa bentuk apresiasi. Nah, inilah kisah jadi jurnalis! 

Saya kuliah di Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI angkatan 2005. Sebelum mengerjakan skripsi, saya diterima di tvOne. Jadi, saya bener-bener gak sempat nganggur. 

Bergabung di tvOne, saya mengikuti pelatihan selama enam bulan. Di sana, saya belajar banyak hal, dari menulis naskah televisi sampai siaran langsung atau live report

Capek? Pasti! Seru? Banget! Suka duka sangat terasa. Dari yang basah-basahan di liputan banjir, lupa makan dan mandi di liputan bencana, nunggu sampai ketiduran di KPK, bingung dengerin isu-isu politik di DPR, bersikap formal dan rapi saat di istana, sampai capek-capek ria di arus mudik. Bahkan masih banyak lagi. 

Tantangan terbesar dari seorang jurnalis itu adalah SABAR! Kenapa harus dikapital? Karena memang ini salah satu modal utama. Apalagai kalau tugas kita adalah mewawancarai orang penting. Kadang untuk wawancara 5 menit, kita bisa menunggu lebih dari 5 jam! Di antaranya, ya seperti, di KPK, DPR sampai istana.

Banyak yang penasaran, bagaimana, ya, rasanya liputan di istana? Jawabannya SERU! Karena tidak semua orang bisa masuk ke kediaman dan kantor presiden. Pemeriksaannya lumayan ketat, dari awal sampai akhir. 

Kita harus punya identitas khusus juga dan pastinya mengikuti peraturan yang ada. Saya menjadi wartawan istana saat era Wakil Presiden Boediono (2010–2012) dan Presiden SBY (2012–2013). Susah senang sedih dirasakan di sana.

Kalau liputan yang mengesankan lainnya adalah saat liputan bencana. Di tahun 2009, saya meliput gempa di Padang, Sumatra Barat. Padang luluh lantah, susah listrik, susah cari air bersih, hingga akhirnya saya dirawat di rumah sakit. 😦

Ngomongin sakit, karena jadi jurnalis saya pernah terkena sakit tipes. Hehehe …. Karena memang, makannya tidak teratur dan bisa jadi makan sembarangan di mana saja. Makanya,, kesehatan itu harus dijaga. Tak hanya saat menjadi jurnalis, tapi di pekerjaan apa pun.

Arus mudik itu adalah salah satu tantangan dan resiko jadi jurnalis. Kenapa? Karena di saat orang-orang pulang kampung merayakan idul fitri, saya dan teman-teman malahan berada di tengah kemacetan, dan berusaha melaporkan informasi terkini.

Saat pertama kali tidak merayakan hari raya bersama keluarga, saya sedih banget. Itu risiko, karena sekarang saya adalah seorang jurnalis 🙂 Tetapi dibalik kesedihan, pasti ada hikmah. Karena saya bisa jalan-jalan liputan di kampung orang dan mendapat banyak kenalan. Lumayan, kan? 

Ngomongin jalan-jalan, tiap dapat penugasan dalam dan luar negeri, bisa juga loh dianggap wisata gratis (meskipun gak bisa dinikmati banget yaaa). Karena tiket, penginapan, sampai uang makan dibayarin sama kantor. ^^v

Salah satunya, saat saya dapat kesempatan ke Bali dan Kamboja sendirian alias jadi reporter dan kameramen sendiri! Hahaha … Sedih, tapi seru! Karena saya bisa belajar dewasa dan mandiri. Harus bisa cepat ambil keputusan, bersaing sama cowok-cowok dan rebutan tempat untuk ambil gambar terbaik.

Ceritanya seperti ini. Di Bali, saya liputan sebagai media televisi sendirian, perempuan pula! Teman-teman yang lain dari cetak dan online. Saya mendapat tempat liputan di belakang dan diomelin sana-sini saat ambil gambar. Namun, saya tidak pantang menyerah!

Begitu pun saat saya liputan ke Kamboja. Ini lebih parah! Saingannya media-media asing. Mana mereka cowok semua dan kebanyakan bapak-bapak! Namun saya punya trik! Saya datang lebih pagi, banyak senyum sana sini, sehingga dapat tempat lebih nyaman 🙂

Meski lelah karena gotong-gotong tripod dan gendong kamera sendirian, saya merasa lebih kuat dan otot terlatih! Anggap aja fitnes gratis. Hehehe ….

Sekarang saya sudah tidak lagi bekerja di tvOne, tapi di NET TV. NET dengan tvOne banyak sekali perbedaannya, diantaranya NET bukan televisi berita, namun juga berusaha mendapatkan informasi dengan cepat.

Di NET, saya pernah meliput di program Indonesia Bagus, Lentera Indonesia, sampai Satu Indonesia. Masing-masing program punya ciri dan karakteristik yang berbeda, tetapi semua memberikan banyak pembelajaran hidup.

Di Satu Indonesia, saya bertemu segala macam tokoh, dari tokoh budaya seperti Sudjiwo Tedjo sampai dengan Presiden RI Joko Widodo. Di Lentera Indonesia, saya meliput pengajar muda yang mengajar di pelosok. Banyak tantangannya, dari listrik yang sering padam sampai penerimaan masyarakat yang belum tentu positif.

Namun yang paling berkesan adalah saat meliput untuk Indonesia Bagus. Di program ini, saya meliput keindahan alam dan budaya Bangka, Belitung, Kediri, juga Blitar. Hal ini membuat saya bangga. Indonesia itu keren banget!!!

Menantang banget, kan?? Percaya deh, saat kita senang melakukannya (ap apun yang positif) Insha Allah hasilnya pun akan menyenangkan. Salah satunya, ya, menjadi jurnalis. Nah, apa kamu siap jalan-jalan gratis?

***

Kiriman dari:

Aulia Kurnia H (Ollie)
Jurnalis at NET TV (sebelumnya reporter tvOne)
@ollie_aulia
Producer of NET News

 

[Konsultasi Kesehatan] Lemah, Letih, dan Lesu Meskipun Sudah Olahraga dan Makan Bergizi

Tanya:

Dear dr. Prabowo,
Saya Miss M di Jakarta. Sehari-hari saya berangkat subuh dan pulang malam sehingga tubuh saya selalu terasa lemah, letih, dan lesu. Ditambah lagi stres karena pekerjaan dan macet membuat saya sering merasa lelah.

lemah letih lesuSetiap hari saya makan teratur, konsumsi buah, sayur, dan susu. Saya juga fitness selama 30 menit sampai 1 jam setiap hari, tapi tetap saja mudah lelah. Apa yang harus saya lakukan agar tubuh tetap fit dan tidak mudah lelah? Tolong saya, dok.
Makasih, ya!

Miss M, Karyawan, Jakarta

Jawab
Terima kasih atas pertanyaan Anda yang bagus sekali. Ada sebuah istilah, yaitu  yang artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Perilaku hidup sehat dan makanan yang dikonsumsi sudah baik untuk membuat tubuh sehat, tetapi jangan dilupakan jiwa yang kuat didapatkan dengan melakukan aktivitas atau hobi yang disukai seperti travelling, menyanyi, menari, menonton bioskop, dan lain-lain. Hal-hal tersebut dapat membuat jiwa (hati) menjadi senang dan tenang.

Selain itu, aktivitas ibadah tidak kalah pentingnya. Sebagai umat beragama, tentu sangat baik jika beribadah sesuai agamanya masing-masing. Berdoa memohon kemudahan dan kesejukan hati dalam melakukan segala aktivitas rumah, kantor, dan pergaulan.

Tidak hanya kesehatan tubuh saja yang penting, kesehatan jiwa perlu diperhatikan agar tercapai keseimbangan antara keduanya. Semoga bermanfaat.

Salam,
dr. R. Prabowo HP