Tag Archives: hijab cosplay

Ketika Islam dan Budaya Populer Jepang Bersemi di Washington DC

Oleh Ranny Rastati (Peneliti PMB LIPI)

Tahun 2018 adalah kali kedua saya mengikuti konferensi Association for Asian Studies (AAS). Jika tahun sebelumnya saya hanya menjadi peserta aktif di AAS Toronto-Kanada, maka tahun ini saya berkesempatan menjadi pembicara yang tergabung dalam panel Islam and Japan Pop Culture. Sebuah tema besar yang menurut pengamatan saya sedang menjadi isu hangat nan seksi di mata para sarjana internasional.

Dari awal saya merasa tertarik untuk membahas pertemuan antara agama dan budaya populer yang saat ini sedang muncul sebagai fenomena yang marak terjadi. Berbekal studi tentang hijab cosplay, saya pun mengajak tiga orang rekan untuk membentuk tim dan mengirim proposal ke panitia konferensi. Berbekal jejaring yang saya dapatkan dari konferensi dan kegiatan sebelumnya, terkumpullah ilmuan-ilmuan muda yang memiliki minat sama dengan saya. Mereka adalah Himawan Pramata dari Universitas Indonesia dengan tema novel Islami bertema Jepang, Suraya Md Nasir dari School of Manga Kyoto yang membahas Manga Islami di Malaysia, dan Roberto Masami dari Universitas Bina Nusantara yang meneliti halal food dan konsep omotenashi Jepang.

Karena memiliki inisiatif membentuk panel, maka saya pun harus mengampu tanggung jawab sebagai chair merangkap organizer. Selain mengumpulkan abstrak dari seluruh anggota, saya pun harus membuat elaborasi riset tim yang menunjukkan benang merah masing-masing tema individu. Dengan mengucap basmallah, proposal yang disiapkan pun saya kirimkan ke email panitia.

29512431_10155622407718020_7654664427511376316_n

Secara garis besar, panel Islam and Japan Popular Culture menitikberatkan pada pertemuan antara nilai-nilai Islam dengan budaya populer yang semakin digemari khususnya di Indonesia dan Malaysia. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, generasi muda di Indonesia dan Malaysia menghabiskan masa kecilnya dengan mengkonsumsi manga (komik Jepang) dan anime (animasi Jepang) seperti Doraemon, Naruto, dan One Piece tanpa mengabaikan ajaran agama yang dianut. Anak muda Muslim malah melihat budaya populer Jepang sebagai fenomena menarik yang dapat dikombinasikan dengan nilai-nilai Islam.

Hijab cosplay misalnya, menjadi sebuah solusi bagi pemakai hijab yang ingin ber-cosplay tanpa melepas hijab yang ia kenakan. Hijab cosplaykemudian menjadi penanda religiusitas dari para penggemar budaya Jepang. Dalam perkembangannya, hijab cosplay pun memiliki karakteristiknya sendiri yaitu hijab cosplay stylish (bergaya) dan hijab cosplay syar’i. Jika hijab cosplay stylish lebih mengedepankan gaya dan kostum seperti membentuk hijab seperti model rambut karakter yang di-cosplay-kan, hijab cosplay syar’i lebih memandang hijab sebagai salah satu bentuk dakwah kreatif yang mengikuti perkembangan zaman. Kostum yang dikenakan pun lebih longgar, menutup dada, dan model hijab yang cenderung konvensional.

Senada dengan hijab cosplay, presentasi tentang manga Islami yang disampaikan oleh Suraya pun menjelaskan bahwa munculnya manga Islami di Malaysia dilakukan untuk mengedepankan isu identitas lokal dan representasi Islam yang dianggap sebagai bagian dari identitas Malaysia. Manga Islami Malaysia pun berpotensi menjadi produk budaya global yang dapat diekspor ke negara-negara Islam.

Selain itu, tema lain yang diangkat dalam panel adalah novel Islami bernuansa Jepang yang disampaikan oleh Himawan. Jepang dianggap sebagai objek kekaguman di kalangan anak muda Indonesia. Novel religius bertema Jepang pun dibuat sebagai salah satu misi dakwah yang sesuai dengan selera pasar. Tema terakhir adalah halal food yang dibawakan oleh Roberto. Konsep halal food sejatinya mirip dengan konsep omotenashi yang ide dasarnya adalah mengantisipasi kebutuhan pelanggan. Perkembangan halal food di Jepang merupakan pengejawantahan dari konsep omotenashi yang berupaya memberikan layanan terbaik kepada pelanggan.

Satu hal yang saya syukuri adalah apresiasi dari para peserta mengenai panel Islam dan Japan Pop Culture. Review yang baik kami terima mulai dari dianggap oleh salah satu peserta sebagai panel terbaik yang ia ikuti selama konferensi 4 hari hingga disebut sebagai para pionir dari isu yang tengah menyeruak di kalangan akademisi sosial dunia.

29541616_10155622587983020_4601267903637094821_n

Selepas presentasi, kami banyak dihampiri oleh audiens yang berminat lebih jauh tentang pertemuan antara agama dan budaya populer. Seiring dengan mekarnya bunga-bunga musim semi, saya merasakan sebuah harapan akan terjalinnya kedalaman pemahaman tentang sebuah negosiasi yang terjadi antara identitas keislaman dan identitas kehobian yang bertemu di persimpangan. Saatnya bangsa Indonesia menerjemahkan dirinya sendiri dan dari sudut pandangnya sendiri (Ranny Rastati, M.Si/Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI)

*) Dipublikasikan pertama kali di http://psdr.lipi.go.id/news-and-events/opinions/ketika-islam-dan-budaya-populer-jepang-bersemi-di-washington-dc pada 28 Juni 2018

Advertisements